flipmagz

Sabtu, 17 September 2011

cara bikin band kamu terkenal



Bikin band tu susah-susah gampang , kalo elo ngerasa udah latihan terus berjuta-juta dikeluarin tapi belum terkenal juga coba deh dievaluasi mungkin blum banyak perjuangmu yang harus dilakukan. Kebanyakan band mengunakan jalur indie sebgai batu loncatan, ada juga yang serius menekuni indie dan gak mau diatur oleh industry dan trend. 

Kalo ngomongin Industri Musik loe harus mau gak mau membuat pasar/ fans loe sendiri milikilah cirri khas dari gaya, fushion, music, dan aksi panggung berbeda agar loe tidak terlindas oleh banyaknya pemain-pemain band lainnya. Nah ni sedikit Tips buat yang masih sma atau kuliah yang lagi merintis bandnya pingin terkenal yuk kita simak bareng.

1. cari personel yang sehati dan satu tujuan
Lihat personil kamu apakah sudah sesuai dengan harapan kamu, kalau belum ! jangan ragu 2x untuk mengeluarkannya karena jangan 2X penyebab dari ketidakmajuan Band kamu adalah dari salah satu personil Band kamu, kemudian gantilah dia dengan personil yang memang benar - benar sesuai dengan harapan kamu.

2. Buanglah egomu dan berpikir positif
Mungkin kamu adalah seorang leader / orang yang paling berkuasa dalam band kamu, tapi bukan berarti mentang 2X kamu seorang pemimpin kamu menjadi orang yang sangat arogan & egois karena siapa tahu di balik wajah 2X personil kamu yang terkadang me nyebalkan itu, terdapat pemikiran & ide 2X yang sangat brilian yang tidak kamu pikirkan sebelumnya, jadi biar lah personil kamu mem beri saran, masukan, kritikan ( selagi dia me lakukannya dengan enak, nggak asal ngoceh & tentunya dengan alasan yang bagus ) siapa tahu dengan ide - ide gokil personil kamu Band kamu bisa menjadi maju.

3. sebarkan single demo gratisan
Dari pada Demo busuk lu, yang kalian anggap bagus itu di simpan di kulkas & belum ke sampain untuk di jadikan Album, lebih baik beri Kan saja secara cuma 2X kepada teman kamu terutama teman yang benar 2X peduli dengan Band kamu, & kalau bisa berikan Demo ter sebut kepada label yang biasa mengorbitkan Band menjadi terkenal.



4. buat Event dan gigs kecil kecilan bareng-bareng band lainnya
Bikin acara yang nggak terlalu besar, yaa..! Tempatnya bisa dimana aja, kalo perlu nggak usah pake panggung yang penting dalam Gigs tersebut promosikan Band kamu secara gila - gilan & undang semua orang untuk datang, untuk melihat Aksi Band kamu yang super keren itu.

5. Buat Merchandise dan Media Promo
Kamu bisa membuat merchandise band kamu untuk dijual, dan juga membuat media promo seperti kaos,stiker, poster, dan dititipin di distro-distro bisa juga jadi endorse brand-brand clothing yang terkenal.


6.Buat mini Album dan Launching
Mini Album sangat penting untuk nunjukin band kamu benar-benar exis, bikinlah materi album yang benar benar frees dan bisa jadi bahan pembicaraan orang banyak karena unik, milikilah nilai tambah band kamu misal ni kayak changcuter band ini unik dengan gaya panggung, costum, kayak band rock tahun 70an, punya aksi panggung yang asyek . contoh lagi kalo denger j-rock pasti lansung inget japanis rock, smahs boy band indonesia, The sigit indie rock yang terkenal di luar negeri dll.


7.Aktif Promo di Jejaring social
Myspace, facebook, twitter dan masih banyak lagi membantu kamu bisa eksis dikenal diantara komunitas-komunitas kamu kalo bisa buat website resmi kamu.

8.Buat Portpolio band
Buatlah portpolio dan prestasi manggung kamu dalam bentuk hand book atau proposal menarik sebarkan ke sekolah-sekolah atau kampus siapa tahu banyak yang ngundang buat manggung, networking dengan studio band dan para pelaku industry music juga penting.

9. cari koneksi bangun networking
Dari semua sumpah serapah yang di jelaskan, point terakhir ini merupakan hal yang paling penting, dekati orang 2X yang benar - benar bisa membuat Band kalian maju tapi jangan terperangkap dengan koneksi 2X yang nggak jelas, yang kadang hanya membuat Kas Band kamu menjadi bangkrut maka pintar 2X lah mencari koneksi, pokoknya lu harus jago selap - selip lah. 


caraka festival kreatif roadshow campus-campus




 baca dari bawah ke atas
Road show caraka festfal kreatif buat mahasiswa kreatif. Ajang bergengsi untuk unjuk gigi ngukur seberapa hebat karya loe, membangun networking, bertemu senior pelaku Industri kreatif, dapat award, dapat teman baru, dapat kerjan, dapat pacar, camping, workshop,exibition, seneng-seneng dapat ilmu lagi. (terbit di flipper edisi 2)

jadi pengusaha sebelum di wisuda


Coba belajar buka usaha dari SMA kamu pasti menemukan dunia yang menabjubkan. Tadi sempet denger lagu-lagunya Linkin Park langsung deh gua teringat masa sma yg dulu gua ngefans ama linkin park walau hanya bisa beli vcd bajakannya saja woow ama dengerin dari radio, pas tu gak mampu beli yang asli.

 Gua waktu sma emang suka banget dengan kegiatan organisasi sekolah, dan gua rasa yang bikin hidup gua penuh semangat kalo banyak teman dan berkumpul mengarap sesuatu walau hanya sekedar garap event atau rapat kecil-kecilan.

Tapi ada yang gua sesali dulu ketika sma kenapa gua gak belajar berwirausaha dan berbisnis, Nah baru pas kuliah semester akhir baru mulai padahal udah mau lulus, dan teryata gua baru sadar wirausaha atau jadi pengusaha bukan sekedar nyari uang, itu kalo bagi gua adalah lifestyle bagian hidup gua.

Saat belajar jadi pengusaha banyak sekali ilmu dan pengalaman yang didapat, gua seperti menemukan dunia baru bukan sekedar bersusah payah cari uang tapi ini merupakan spirit dan bagian hidupq. Penyesalan emang diakhir tapi nasi sudah jadi bubur, ya gimana caranya bubur ini jadi bubur istimewa kasih bawang goreng, kasih kecap, kasih ayam biar tambah sedap hehehhe.

 Yang udah mulai suka punya cita-cita jadi pengusaha gua saranin cepet cepet deh take action agar keajaiban terjadi, nyicil-nyicil belajar buka usaha siapa tahu loe pas kuliah bisa jadi anak muda mandiri yang gak nyusahin orang tua dan bermanfaat untuk orang banyak.



Peter owner Peter Says Denim
Inspirasi Produk sampai ke luar negeri
Asli Indonesia



salam kreatif
flipper magazine


 

mengapa flim drama korea sangat disukai cewek Indonesia






Film drama korea sangat disukai oleh orang Indonesia khususnya cewek ada apa sih dengan drama korea, gua punya adek cewek dia fanatik banget ama drama korea, tiap ada di tv woih pasti nonton terus gak mau diganti canel lain. 


Nah karena itu gua penasaran ama demam drama korea kenapa disukai banget ama cewek-cewek. Adek gua itu selalu aja ngomongin cowok-cowok cakep di drama korea, diponselnya lagu-lagu korea banyak banget, profile face booknya, huah kenapa ya kira-kira bisa begitu.


Sejak sekitar satu dekade lalu marak drama yang berasal dari Negeri Ginseng ditayangkan di beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia. Drama-drama tersebut diterima dan sangat diminati masyarakat kita, terutama kaum perempuan. Berikut ini alasan mengapa pemirsa menyukai drama Korea.


Jalinan cerita dan dialog-dialognya berhasil menyentuh emosi pemirsa dari berbagai lapisan usia.
Didukung oleh sinematografi yang sempurna, soundtrack yang romantis, pemilihan pemain yang pas dan mampu berakting secara alami.


Latar belakang suasana keindahan musim dan pemandangan alam di Korea menjadikannya tontonan yang manis di mata ataupun di hati, seperti Endless Love dan Winter Sonata.
Keberagaman genre film Korea. Ada nilai tradisionalnya, budaya dan kearifan lokalnya juga masuk.
Sinetron Korea lebih mengangkat nilai-nilai hidup orang Asia dengan cerita yang sederhana dan mempunyai kemiripan dengan kisah hidup pemirsanya sehari-hari.
Jumlah episode tak terlalu panjang, berkisar 16-25 episode.
Makeup pemainnya natural, dipadu dengan pakaian yang modis.
Sumber cerita mengikuti isu yang sedang populer, baik melalui komik manga maupun Internet.
Drama Korea juga menjual mimpi, tapi sekaligus mengajarkan bahwa mimpi itu tidak mustahil diraih asalkan bekerja keras untuk mewujudkannya (lihat drama Bread Love and Coffee Prince).
Mengajarkan nilai positif lainnya, seperti anak muda menghormati orang tua, baik dalam segi bahasa maupun tingkah laku.
Mengandung filosofi dan esensi tentang sesuatu yang simpel. Hal ini makin memperkuat drama tersebut.






Tahukah Anda:


Hallyu:
Istilah ini muncul di Cina pada 1997 untuk menyebut gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda Cina. Penggemar fanatik aktris, aktor, penyanyi, dan budaya pop Korea disebut hahanzu. Setelah Cina, gelombang Korea juga melanda negara-negara Asia lainnya.


Diplomasi Budaya:
Musik dan film menjadi alat diplomasi budaya yang ampuh. Hallyu berperan besar memperbaiki hubungan Korea dengan Vietnam yang retak akibat keterlibatan Korea Selatan dalam Perang Vietnam. Selain itu, membantu mendekatkan masyarakat Jepang dan Korea yang negaranya sampai saat ini masih berkonflik tentang sejarah perang.


Menangis:
Menurut Lee O-yong, mantan Menteri Kebudayaan Korea, bukan orang Korea kalau tidak bisa menangis. Jika sedih ataupun gembira, mereka biasa mengekspresikannya dengan menangis. Karakter ini muncul akibat lamanya hidup dalam penderitaan karena sumber daya alam terbatas, iklim yang keras, sering mengalami perang, dan pernah hidup dalam kediktatoran.


Operasi Plastik:
Yoon Won-joo dari Migo Clinic di Seoul, Korea Selatan, pernah mengungkapkan hampir 90 persen artis Korea menjalani operasi plastik terbatas di bagian hidung, dagu, bibir, atau mata. Untuk operasi plastik, para artis dan manajemennya rela merogoh kocek 10-20 juta won (Rp 79-158 juta). Para artis yang mengaku pernah melakukan operasi plastik, antara lain, Narsha dan Ga-in, penyanyi grup Brown Eyed Girls; Kwon Sang-woo; Kim Dong-wan dari kelompok penyanyi Shin Hwa; Park Hyo-sin; serta Chae Rim.


Bunuh Diri:
Banyaknya artis korea yang bunuh diri telah menjadi pembicaraan hangat di berbagai penjuru dunia dalam beberapa tahun terakhir. Penyebabnya antara lain depresi karena persaingan yang begitu ketat di dunia hiburan. Mereka yang ramai diberitakan sejumlah tabloid dan jaringan dunia maya mati karena bunuh diri, antara lain, Kim Ji-hoo (6 Oktober 2008), Woo Seung-yoon (27 April 2009), Jang Ja-yeon (7 Maret 2009), Song Ji-seon (23 Mei 2011), dan Chae Dong-ha (27 Mei 2011).


BERBAGAI SUMBER

Jumat, 16 September 2011

Remaja Hero adalah yang Berbakti Kepada Orang Tua


Berbicara tentang berbakti kepada orang tua tidak lepas dari permasalahan berbuat baik dan mendurhakainya. Mungkin, sebagian orang merasa lebih ‘tertusuk’ hatinya bila disebut ‘anak durhaka’, ketimbang digelari ‘hamba durhaka’.

Bisa jadi, itu karena ‘kedurhakaan’ terhadap Allah, lebih bernuansa abstrak, dan kebanyakannya, hanya diketahui oleh si pelaku dan Allah saja.

 Lain halnya dengan kedurhakaan terhadap orang tua, yang jelas amat kelihatan, gampang dideteksi, diperiksa dan ditelaah,sehingga lebih mudah mengubah sosok pelakunya di tengah masyarakat, dari status sebagai orang baik menjadi orang jahat.

Pola berpikir seperti itu, jelas tidak benar, karena Allah menegaskan dalam firman-Nya, (yang artinya) :
“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Penghambaan diri kepada Allah, jelas harus lebih diutamakan. Karena manusia diciptakan memang hanya untuk tujuan itu.

Namun, ketika Allah ‘menggandengkan’ antara kewajibanmenghamba kepada-Nya, dengan kewajiban berbakti kepada orang tua, hal itu menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua memang memiliki tingkat urgensi yang demikian tinggi, dalam Islam. Kewajiban itu demikian ditekankan, sampai-sampai Allah menggandengkannya dengan kewajiban menyempurnakan ibadah kepada-Nya.


Urgensi Berbakti kepada Dua orang Tua
Ada setumpuk bukti, bahwa berbakti kepada kedua orang tua –dalam wacana Islam- adalah persoalan utama, dalam jejeran hukum-hukum yang terkait dengan berbuat baik terhadap sesama manusia. Allah sudah cukup mengentalkan wacana ‘berbakti’ itu, dalam banyak firman-Nya, demikian juga Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dalam banyak sabdanya, dengan memberikan ‘bingkai-bingkai’ khusus, agar dapat diperhatikan secara lebih saksama. Di antara tumpukan bukti tersebut adalah sebagai berikut:


1. Allah ‘menggandengkan’ antara perintah untuk beribadah kepada-Nya, dengan perintah berbuat baik kepada orang tua:
“Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23

2. Allah memerintahkan setiap muslim untuk berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun mereka kafir:
“Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..[1]“

3. Berbakti kepada kedua orang tua adalah jihad.
Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

4. Taat kepada orang tua adalah salah satu penyebab masuk Surga.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh kasihan, sungguh kasihan, sungguh kasihan.” Salah seorang Sahabat bertanya, “Siapa yang kasihan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang sempat berjumpa dengan orang tuanya, kedua-duanya, atau salah seorang di antara keduanya, saat umur mereka sudah menua, namun tidak bisa membuatnya masuk Surga.” (Riwayat Muslim)
Beliau juga pernah bersabda:
“Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih.” Riwayat ini juga dinyatakan shahih, oleh Al-Albani.) Menurut para ulama, arti ‘pintu pertengahan’, yakni pintu terbaik.

5. Keridhaan Allah, berada di balik keridhaan orang tua.
“Keridhaan Allah bergantung pada keridhaan kedua orang tua. Kemurkaan Allah, bergantung pada kemurkaan kedua orang tua[2].”

6. Berbakti kepada kedua orang tua membantu meraih pengampunan dosa.
Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sambil mengadu, “Wahai Rasulullah! Aku telah melakukan sebuah perbuatan dosa.” Beliau bertanya, “Engkau masih mempunyai seorang ibu?” Lelaki itu menjawab, “Tidak.” “Bibi?” Tanya Rasulullah lagi. “Masih.” Jawabnya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Kalau begitu, berbuat baiklah kepadanya.”

Dalam pengertian yang ‘lebih kuat’, riwayat ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, dapat membantu proses taubat dan pengampunan dosa. Mengingat, bakti kepada orang tua adalah amal ibadah yang paling utama.

7. Berbakti kepada orang tua, membantu menolak musibah.
Hal itu dapat dipahami melalui kisah ‘tiga orang’ yang terkurung dalam sebuah gua. Masing-masing berdoa kepada Allah dengan menyebutkan satu amalan yang dianggapnya terbaik dalam hidupnya, agar menjadi wasilah (sarana) terkabulnya doa. Salah seorang di antara mereka bertiga, mengisahkan tentang salah satu perbuatan baiknya terhadap kedua orang tuanya, yang akhirnya, menyebabkan pintu gua terkuak, batu yang menutupi pintunya bergeser, sehingga mereka bisa keluar dari gua tersebut. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

8. Berbakti kepada orang tua, dapat memperluas rezki.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin rezkinya diperluas, dan agar usianya diperpanjang (dipenuhi berkah), hendaknya ia menjaga tali silaturahim.” (Al-Bukhari dan Muslim)
Berbakti kepada kedua orang tua adalah bentuk aplikasi silaturahim yang paling afdhal yang bisa dilakukan seorang muslim, karena keduanya adalah orang terdekat dengan kehidupannya.

9. Doa orang tua selalu lebih mustajab.
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada tiga bentuk doa yang amat mustajab, tidak diragukan lagi: Doa orang tua untuk anaknya, doa seorang musafir dan orang yang yang terzhalimi.”

10. Harta anak adalah milik orang tuanya.
Saat ada seorang anak mengadu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah! Ayahku telah merampas hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan juga hartamu, kesemuanya adalah milik ayahmu[3].”

11. Jasa orang tua, tidak mungkin terbalas.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Seorang anak tidak akan bisa membalas budi baik ayahnya, kecuali bila ia mendapatkan ayahnya sebagai budak, lalu dia merdekakan.” (Dikeluarkan oleh Muslim)

12. Durhaka kepada orang tua, termasuk dosa besar yang terbesar.
Dari Abu Bakrah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahukan dosa besar yang terbesar?” Para Sahabat menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliau bersabda, “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka terhadap orang tua.” Kemudian, sambil bersandar, beliau bersabda lagi, “..ucapan dusta, persaksian palsu..” Beliau terus meneruskan mengulang sabdanya itu, sampai kami (para Sahabat) berharap beliau segera terdiam. (Al-Bukhari dan Muslim)

13. Orang yang durhaka terhadap orang tua, akan mendapatkan balasan ‘cepat’ di dunia, selain ancaman siksa di akhirat[4].
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ada dua bentuk perbuatan dosa yang pasti mendapatkan hukuman awal di dunia: Memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, dan durhaka terhadab orang tua[5].”

Alhamdulillah. Kesemua bukti tersebut –dan masih banyak lagi bukti-bukti ilmiah lainnya, termasuk konsensus umat Islam terhadap urgensi berbakti kepada orang tua yang sama sekali tidak boleh terabaikan–, kesemuanya, menunjukkan betapa bakti kepada orang tua adalah kebajikan maha penting, bahkan yang terpenting dari sekian banyak perbuatan baik yang diperuntukkan terhadap sesama makhluk ciptaan Allah.

 Sedemikian pentingnya, hingga riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang adab, prilaku dan sikap seorang anak terhadap orang tuanya, bertaburan dalam banyak hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, bahkan juga dalam beberapa ayat Al-Qur’an.


Memuliakan Orang Tua
Pemuliaan Islam terhadap sosok orang tua, amat lugas. Wujud pemuliaan itu sudah beberapa langkah mendahului gemuruh propaganda sejenis, yang baru-baru saja muncul belakangan ini, dari kalangan Barat. Sebut saja contohnya: jaminan untuk kaum manula, perhatian terhadap kaum jompo dan lain sebagainya. Kenapa demikian? Karena Islam sudah jauh-jauh hari langsung menghadirkan ‘perintah tegas’ bagi seorang mukmin, untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.
“Telah kami pesankan seorang manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (Al-Ahqaaf : 15)
Ibnu Katsier menjelaskan, “Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sekaligus juga melimpahkan kasih sayang kita kepada mereka[6].”
“Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” (An-Nisaa : 36)

Perintah itu, bahkan diseiringkan dengan perintah untukmengesakan Allah sebagai kewajiban utama seorang mukmin. Sehingga amatlah jelas, perintah itu mengandung ‘tekanan’ yang demikian kuat.

Sekarang, bandingkanlah substansi ajaran Islam itu dengan realitas yang berkembang di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia sekarang ini. Banyak anak yang enggan menyisihkan sebagian waktunya, mengucurkan keringat atau sekadar berlelah-lelah sedikit, untuk merawat orang tuanya yang sudah ‘uzur’.

Terutama sekali, bila anak tersebut sudah berkedudukan tinggi, sangat sibuk dan punya segudang aktivitas. Akhirnya, ia merasa sudah berbuat segalanya dengan mengeluarkan biaya secukupnya, lalu memasukkan si orang tua ke panti jompo!!


Berbuat Baik Kepada Orang Tua
“..dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)
Berbuat baik dalam katagori umum, dalam bahasa Arabnya disebut ihsaan. Sementara bila ditujukan secara khusus kepada orang tua, lebih dikenal dengan istilah birr. Dalam segala bentuk hubungan interaktif, Islam sangatlah menganjurkan ihsan atau kebaikan.

“Sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan, untuk dilakukan dalam segala hal. Bila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik. Bila kalian menyembelih hewan, lakukanlah dengan cara baik. Oleh sebab itu, hendaknya seorang muslim menyiapkan pisau yang tajam, dan upayakan agar hewan sembelihan itu merasa lebih nyaman[7].”

Ibnu Jarir Ath-Thabari menjelaskan, “Allah berpesan agar setiap orang melakukan bakti kepada orang tua dengan berbagai bentuk perbuatan baik. Namun kepada selain orang tua, Allah hanya memesankan ’sebagian’ bentuk kebaikan itu saja. “Katakanlah yang baik, kepada manusia.” (Al-Baqarah : 83)
Orang tua adalah manusia yang paling berhak mendapatkan danmerasakan ‘budi baik’ seorang anak, dan lebih pantas diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Ada beragam cara yang bisa dilakukan seorang muslim, untuk ‘mengejawantahkan’ perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya secara optimal.

 Beberapa hal berikut, adalah langkah-langkah dan tindakan praktis yang memang sudah ’seharusnya’ kita lakukan, bila kita ingin disebut ‘telah berbuat baik’ kepada orang tua:

1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.

2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.

3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka.

4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.

5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.

6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.

7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman:
“Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215)

8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.

9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)[8]

Semua hal di atas bukanlah ’segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata.

 Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, karena dorongan kasih sayang dan –terlebih-lebih– penghambaan dirinya kepada Allah.

 Sementara kita hanya memberi balasan, setelah terlebih dahulu kita menerima kebaikan dari mereka. Sehingga, bagaimanapun, nilainya jelas akan berbeda.


Arti Birrul Waalidain
Perlu ditegaskan kembali, bahwa birrul waalidain (berbakti kepada kedua orang tua), lebih dari sekadar berbuat ihsan (baik) kepada keduanya. Namun birrul walidain memiliki nilai-nilai tambah yang semakin ‘melejitkan’ makna kebaikan tersebut, sehingga menjadi sebuah ‘bakti’. Dan sekali lagi, bakti itu sendiripun bukanlah balasan yang setara yang dapat mengimbangi kebaikan orang tua. Namun setidaknya, sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur.

Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul waalidain yaitu berbuat baik terhadap kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang dapat membuat mereka bergembira, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”

Al-Imam Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa birrul waalidain atau bakti kepada orang tua, hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi tidak bentuk kewajiban:


Pertama: Menaati segala perintah orang tua, kecuali dalam maksiat.
Kedua: Menjaga amanah harta yang dititipkan orang tua, atau diberikan oleh orang tua.
Ketiga: Membantu atau menolong orang tua, bila mereka membutuhkan.
Bila salah satu dari ketiga kriteria itu terabaikan, niscaya seseorang belum layak disebut telah berbakti kepada orang tuanya.

Karena berbakti kepada kedua orang tua lebih merupakan perjanjian, antara sikap kita dengan keyakinan kita. Kita tahu, bahwa menaati perintah orang tua adalah wajib, selama bukan untuk maksiat. Bahkan perintah melakukan yang mubah, bila itu keluar dari mulut orang tua, berubah menjadi wajib hukumnya.

 Kita juga tahu, bahwa harta orang tua harus dijaga, tidak boleh dihamburkan secara percuma, atau bahkan untuk berbuat maksiat

. Kita juga meyakini, bahwa bila orang tua kita kekurangan atau membutuhkan pertolongan, kitalah orang pertama yang wajib menolong mereka. Namun itu hanya sebatas keyakinan.

Bila tidak ada ‘ikatan janji’ dengan sikap kita, semua itu hanya terwujud dalam bentuk wacana saja, tidak bisa terbentuk menjadi ‘bakti’ terhadap orang tua. 

Oleh sebab itu, Allah menyebut kewajiban bakti itu sebagai ‘ketetapan’, bukan sekadar ‘perintah’. “Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)


Jangan Mendurhakainya!
Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang ‘kewajiban kita’ terhadap sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal.

Imam An-Nawawi menjelaskan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak, justru terhadap ibunya[9].”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu danmelarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta[10].”

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ’sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab, ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam[11].”

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaannya yang melebihi kemuliaan seorang ayah[12].”

Kapan seseorang disebut durhaka? Imam Ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam Al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata durhaka yaitu: apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Dengan demikian, berdasarkan definisi itu, bila seorang anak tidak mematuhi perintah atau larangan dalam urusan yang sangat sepele yang menurut hukum kebiasaan itu tidak dianggap ‘durhaka’, maka itu bukan termasuk kategori perbuatan durhaka yang diharamkan.

Namun bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan orang tua dengan melakukan perbuatan dosa kecil, maka yang dilakukannya menjadi dosa besar, karena kehormatan larangan orang tua.

Demikian juga, disebut durhaka, bila seorang anak melanggar larangan orang tua yang bertujuan menyelamatkan si anak dari kesulitan[13].”
Ibnu Hajar Al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa.

Seperti memberikan sesuatu dengan dilempar, atau saat orang tuanya menemuinya di tengah orang ramai, ia tidak segera menyambutnya, dan berbagai tindakan lain yang di kalangan orang berakal dianggap ‘kurang ajar’, dapat sangat menyinggung perasaan orang tua[14].”

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan, “Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan ataupun amalan..[15]“

Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Kebanyakan ulama berpendapat bahwa taat kepada orang tua wajib, termasuk dalam hal-hal yang masih syubhat, namun tidak boleh dilakukan dalam hal-hal haram. Bahkan, seandainya keduanya merasa tidak nyaman bila makan sendirian, kita harus makan bersamamereka.

 Kenapa demikian? Karena menghindari syubhat termasuk perbuatanwara’ yang bersifat keutamaan, sementara mentaati kedua orang tua adalah wajib. Seorang anak juga haram bepergian untuk tujuan mubah ataupun sunnah, kecuali dengan ijin kedua orang tua. Melakukan haji secepat-cepatnya bahkan menjadi sunnah, bila orang tua tidak menghendaki. Karena melaksanakan haji bisa ditunda, dan perintah orang tua tidak bisa ditunda.

 Pergi untuk menuntut ilmu juga hanya menjadi anjuran, bila orang tua membutuhkan kita, kecuali, untuk mempelajari hal-hal yang wajib, seperti shalat dan puasa, sementara di daerah kita tidak ada orang yang mampu mengajarkannya..[16]“

Seringkali seorang anak membela diri saat dikecam sebagai anak yang durhaka terhadap ibunya, dengan pelbagai alasan yang dibuat-buat, atau sekadar mengalihkan perhatian kepada soal lain. ‘Seharusnya kan orang tua itu lebih tahu,’ ‘Seharusnya seorang ibu mengerti perasaan anak,’ ‘Seharusnya seorang ibu itu lebih bijaksana daripada anaknya,’ ‘Seharusnya seorang ibu tidak boleh memaksakan kehendak,’ dan berbagai alasan kosong lainnya. Yah, taruhlah, dalam suatu kasus, si ibu memang melakukan kesalahan, dengan memaksakan kehendaknya, atau bersikap kurang bijaksana.

Namun saat si anak membantah perintah atau larangan ibunya, apalagi dia mengerti bahwa yang dikehendaki oleh ibunya itu adalah baik, meski kurang tepat, tidak pelak lagi, si anak telah berbuat durhaka.

 Di sinilah seharusnya ‘kunci kesabaran’ dan tingkat ‘kesadaran’ terhadap syariat Allah, juga penghormatan terhadap orang tua, dapat menggeret seseorang mengambil jalan mengalah, meskipun ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk harta, dan juga cita-citanya. Selama hal itu dapat membahagiakan sang ibu, seharusnya ia berusaha untuk memenuhi kehendaknya.

Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsan menegaskan, “Apabila kita sudah menyadari betapa besar hak seorang ibu terhadap anaknya, dan betapa besar dosa perbuatan durhaka terhadapnya, atau dosa sekadar lalai memperhatikannya,cobalah, segera berbakti kepadanya, maafkan segala kekeliruannya di masa lampau, berusaha dan berusahalah untuk selalu menjalin hubungan baik dengannya.

Berusahalah untuk menyenangkannya, dan dahulukan upaya memperhatikannya daripada segala hal yang kita sukai. Berupayalah untuk memenuhi kebutuhannya selekas mungkin, jangan sampai menyusahkannya. Ingatlah firman Allah:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Israa : 24)


Ketika orang tua telah berusia senja.
Pada saatnya, usia juga yang membatasi kepawaian seorang ibu mengasuh anaknya. Kasih ibu, memang tak dapat dihentikan sang waktu. Namun sebagai manusia, kekuatannya tidak pernah abadi. Akhirnya, sang ibu harus melalui juga masa-masa yang belum pernah dibayangkan selama ini.

 Kulitnya mulai keriput, tenaganya mulai jauh berkurang, tulang-tulangnyapun mulai terasa rapuh, suaranya berubah menjadi sengau, tak mampu menyetabilkan nada yang keluar. Saat itulah, ia mulai sangat membutuhkan belaian kasih sang anak. Ia mulai memerlukan adanya orang lain di sisinya, untuk menyelesaikan segala hal, termasuk pekerjaan-pekerjaan ringan sekalipun, yang selama ini bisa dia selesaikan seorang diri.

Saat itulah, bakti seorang anak menjadi suatu hal yang teramat dibutuhkan:

“ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:”Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra : 23-24)

Saat usia semakin tua, bisa jadi kepekaan seorang ibu bertambah. Ia lebih mudah tersinggung, lebih mudah melampiaskan amarahnya, lebih mudah tersentuh hatinya hanya oleh kata-kata atau ucapan, yang bila itu diucapkan seorang anak di waktu mudanya, tidak akan diperdulikan sama sekali.

Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan bimbingan yang demikian santun, agar seorang anak membiasakan diri berbicara dan bersikap secara mulai, santun dan terpuji, terhadap kedua orang tuanya, terutama sekali ibunya.

Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.” Kontan, seorang Sahabat bertanya: “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.

” Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.”

Akupun berkata: ‘Amin.’ Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.[17]‘


Saat Ibunda Telah Wafat
Ada beberapa wujud manefestasi cinta kasih kepada sang bunda, yang masih dapat kita lakukan saat sang bunda sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Semua bentuk implementasi cinta kasih itu pada dasarnya lebih bersifat tugas dan kewajiban kita. Dengan atau tanpa muatan cinta kasih, semua tugas itu harus kita pikul. Namun adalah kenistaan, bila kita melaksanakan semuanya tanpa landasan cinta kepadanya. Berikut ini, penulis paparkan beberapa di antaranya:


Pertama: Melaksanakan perjanjian dan pesan sang bunda.
Diriwayatkan dari Syaried bin Suwaid Ats-Tsaqafi, bahwa ia menuturkan, “Wahai Rasulullah! Ibuku pernah berpesan kepadaku untuk memerdekakan seorang budak wanita yang beriman. Aku memiliki seorang budah wanita berkulit hitam. Apakah aku harus memerdekakannya?” “Panggil dia.” Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Saat wanita itu datang, beliau bertanya, “Siapa Rabbmu?” Budak wanita itu menjawab, “Allah.” “Lalu, siapa aku?” Tanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lagi. Wanita itu menjawab, “Engkau adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.” Beliaupun bersabda, “Merdekakan dia. Karena dia adalah wanita mukminah[18].”
Kedua: Mendoakan sang ibu, membacakah shalawat dan memohonkan ampunan baginya.
Ibnu Rabi’ah meriwayatkan: Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kalangan Bani Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam!

Apakah masih tersisa bakti kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal dunia?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Ya. Bacakanlah shalat untuk mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, tunaikan perjanjian mereka, peliharalah silaturahim yang biasa dipelihara kala mereka masih hidup, juga, hormati teman-teman mereka[19].”

Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla bisa saja mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di Surga kelak. Si hamba itu akan bertanya, “Ya Rabbi, bagaimana aku bisa mendapatkan derajat sehebat ini?” Allah berfirman, “Karena permohonan ampun dari anakmu[20].”

Salah satu dari tanda cinta kasih kita kepada ibu adalah munculnya pengharapan agar si ibu selalu hidup berbahagia. Bila ia sudah meninggal dunia, kita juga senantiasa mendoakannya, membacakan shalat untuknya serta memohonkan ampunan untuknya. Semua perbuatan tersebut bukanlah hal-hal yang remeh.

Dan juga, amat jarang anak yang mampu secara telaten melakukan semua kebajikan tersebut. Padahal, ditinjau dari segi kelayakan, dan segi kesempatan serta kemampuan, sudah seyogyanya setiap anak berusaha melakukannya.

Dari kwantitas, semua amalan tersebut tidak membutuhkan banyak waktu. Sekadar perhatian dan kesadaran, yang memang sangat dituntut. Bila seorang anak merasa sangat kurang berbakti kepada kedua orang tuanya, inilah kesempatan yang masih terbuka lebar, untuk menutupi kekurangan tersebut, selama hayat masih dikandung badan.
Ketiga: Memelihara hubungan baik, dengan teman dan kerabat ibu.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang tetap ingin menjaga hubungan silaturahim dengan ayahnya yang sudah wafat, hendaknya ia menjaga hubungan baik dengan teman-teman ayahnya yang masih hidup[21].”

Keempat: Melaksanakan beberapa ibadah untuk kebaikan sang ibu.
Sa’ad bin Ubadah pernah bertanya, “Ibuku sudah meninggal dunia. Sedekah apa yang terbaik, yang bisa kulakukan untuknya?” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab, “Air. Gali saja sumur. Lalu katakan: ‘pahala penggunaan sumur ini, untuk ibu Saad[22].”
Demikianlah sekilas tentang hubungan dengan ibu yang menjadi salah satu dari kedua orang tua, sengaja dibatasi pembahasan ini hanya seputar ibu, agar lebih singkat. Mudah-mudahan bermanfaat.
—
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
sumber : Artikel UstadzKholid.Com


Selasa, 13 September 2011

tentang flipper magazine


Flipper adalah Digital Magazine untuk anak sma yang dibuat khusus untuk media pamer karya, kita sadar pentingnya portpolio dan karya sangat lah penting untuk menunjang masa depan yang lebih baik, kita percaya generasi penerus bangsa adalah calon pembeharu Indonesia yang lebih baik.

 Dimulai dari mengembalikan nama jogja kota pelajar kita ingin sekali mengajak generasi kreatif dan energik ini untuk berkarya dan menjadi pelopor peradaban masa depan yang lebih baik.
Berkaryalah selagi muda jangan sampai menyesal.
flipper ingin mengajak kita selalu berbagi, berbagi ilmu, berbagi inspirasi, dan karya
SPIRIT FOR BETTER


SESUATU YANG BERHARGA ITU TERSEMBUNYI
GALI TERUS POTENSIMU

KEMBANGKANLAH KEMAMPUANMU SETINGGI MUNGKIN
RAIH CITA-CITAMU




WAWANCARA dengan Nandika desta dewara





Rahasia Bikin Event Sukses

Halo sahabat Flipper di edisi 2 liputan kali ini ada wawancara eklusif dengan ketua panitia padmanaba cup 2011 SMA NEGERI 3 YOGYAKARTA


Flip : Halo bro perkenalkan sedikit donk tentang event padmanaba cup

desta :Event “Padmanaba cup” adalah event tahunan yaitu kompetisi olahraga yang pesertanya sd,smp,sma se DIY. Kompetisi meliputi kompetisi Futsal untuk smp se-DIY,
Kompetisi perisai diri, kompetisi Maskot, kompetisi supporter, dan pamaera fushion show

Flip : Dari mana ide awalnya

desta :Ide awalnya karena melihat kurangnya event untuk pelajar smp khususnya,Apreasiasi bakat olahraga, dan juga hasil pemikiran dari semua panitia yang terlibat dalam event ini, mandat dari kakak kelas terdahulu, dan semua temen-temen yang mendukung acara ini.

Flip :siapa saja yang terlibat dalam kepanitian event ini

desta : Panitia gabungan kelas 1 dan kelas 2, ada sekitar 74 orang panitia . kepanitian merata tidak untuk yang aktif- aktif saja siapa saja bisa terlibat dikepanitiaan.

flip :Ada kendala gak sih selama proses pembuatan event ini ?

desta :Ada sih , udah dua kali kita ganti tanggal dikarenakan bertabrakan dengan cara-acara lainya, tapi tetep semangat karena digarap bareng-bareng .


Flip : Apa sih suka dukanya dalam proses pembuatan event ini ?

Desta :Sukanya kesempatan untuk berkarya dan belajar, Banyak pengalaman dan pelajaran berharga dari event ini  ,Kepercayaan, keakraban, menyalurkan bakat , berexperimen, pinter-pinter bagi waktu ,dan masih banyak lagi.  

Dukanya : semuanya happy 

Flip :Apa sih Patokan dari kesuksesan event ini atau tujuan pencapaian?

Desta :Mengharumkan nama padmanaba
Keberhailan membuat event dari o sampai hari H ,Peminatnya banyak, Yang nonton banyak ,dan yang paling bisa meninggalkan nilai positif di masyarakat. Juga Bermanfaat bagi banyak orang.

Flip :Yang terakhir Tips buat temen-temen biar eventnya berhasil  

Desta : tipsnya adalah komunikasi yang perlu dijga, selalu kordinasi, kordinasi dengan team dengan kaka kelas yang pernah membuat event sebelumnya, rasa bangga dan merasakan prosesnya dengan senang , semangat, ciptakan  suasana keakraban yang penuh keceriaan dan semangat, Santai  tapi serius,.

Flip : Sukses ya Buat Event kalian
Bangga Punya karya “ SPIRIT FOR BETTER”