Selasa, 19 Februari 2013
mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an
Asy syahid Sayyid Quthub mengatakan dalam muqaddimah tafsirnya, “Hidup dalam naungan al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.”
Sungguh banyak keutamaan dan keuntungan yang diperoleh bagi orang yang membaca al-Qur’an. Keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya seperti surat kabar, majalah dan buku. Diantara keutamaan dan keuntungan orang yang membaca al-Qur’an yaitu;
Sungguh banyak keutamaan dan keuntungan yang diperoleh bagi orang yang membaca al-Qur’an. Keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya seperti surat kabar, majalah dan buku. Diantara keutamaan dan keuntungan orang yang membaca al-Qur’an yaitu;
Pertama: orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat nantinya berdasarkan sabda Rasulullah saw bersabda: ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (H. R. Muslim). Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Namun demikian, tanpa membaca al-Qur’an maka tidak mungkin kita mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.
Kedua, Rasulullah saw menegaskan bahwa orang yang terbaik di antara manusia adalah orang yang mau mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, sesuai dengan sabdanya, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari). Oleh karena itu, orang yang terbaik di dunia ini bukanlah orang yang punya memiliki harta yang melimpah, jabatan maupun pangkat yang tinggi. Namun, disisi Allah Swt orang terbaik itu adalah orang yang mau belajar al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain.
Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan disediakan tempat yang paling istimewa di surga bersama para malaikat yang suci. Sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai), maka ia akan diberi dua pahala yaitu pahala mau belajar dan kesungguhan membaca, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).
Keempat, kejayaan suatu umat Islam itu dengan membaca al-Qur’an dan mengamalkannya. Namun sebaliknya, musibah yang menimpa umat ini disebabkan karena sikap acuh tak acuh kepada al-Qur’an dan meninggalkannya. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah Swt meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an” (H.R Muslim). Inilah rahasia mengapa generasi awal umat Islam (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’itabi’in) menjadi generasi terbaik umat ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasul saw. Mengapa demikian?
Jawabannya adalah karena mereka mengamalkan al-Qur’an dan sunnah Rasul saw. Maka Islampun berjaya pada masa-masa mereka, sehingga tersebar keseluruh penjuru dunia. Namun, setelah generasi tersebut sampai saat ini umat Islam meninggalkan al-Qur’an sehingga umat Islam menjadi lemah dan hina karena dijajah oleh orang kafir, bahkan dizalimi dan dibunuh seenaknya oleh orang kafir akibat meninggalkan al-Qur’an.
November 2012
- “Membangun Kemandirian Finansial Keluarga Muslim” (Ust. M. Fauzil Adhim)
- “Tafsir QS. Al Maidah, 7-9: Mentaati Allah Sepenuhnya” (Ustzh. Mimi Rahmasari, Lc.)
- “Tafsir QS At Taubah 38-41: Allah Menurunkan Ketenangan Ketika Nabi Muhammad SAW Hijrah” (Ust. Nashir Harist, Lc.)
- “Fiqh Ibadah: Sholat Istikhoroh yang Benar dan Membaca Hasilnya” (Ust. Sulhan Zainuri, Lc.)
- “Kepedulian Sesama Muslim Merupakan Salah Satu Kunci Melesatnya Kemajuan Umat” (Ustzh. Tri Winarsih, SP.)
- “Jelajah Hati: Muhasabah, Berhijrah Menjadi Pribadi yang Lebih Unggul dan Taqwa” (Ust. Syatori Abdurrouf.)
- “Iman, Islam, dan Ihsan” (Ust. Arif Rif’an, M.SI.)
- “Adab Menuntut Ilmu Bagi Muslimah #2: Intelektual Muslimah” (Ust. Talqis Nurdiyanto, Lc.)
- “Kitab Riyadush Shalihin bab Perintah Menjaga Sunnah dan Adab-adabnya #2″ (Ust. Sholihun.)
- “Generasi Qur’ani Pembangun Peradaban” (Ust. Tri Lasanta, ST.)
- “Dakwah Fardhiyah Mengajak Orang Lain Ke Jalan Allah” (Ustzh. Asri Widiarti, S.Si.)
- “Kitab At Tibyan Adabi Fi Hamalatil Qur’an” (Ust. Talqis Nurdiyanto, Lc.)
Kelima, orang yang membaca dan mendengar Al-Qur’an akan mendapatkan sakinah, rahmah, doa malaikat dan pujian dari Allah. Nabi saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).
Memang, membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an menentramkan hati kita sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt, ““…Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang”. (Q.S Ar-Ra’d: 28). Al-Qur’an merupakan zikir yang paling afdhal (utama). Oleh karena itu, ketenangan tidaklah diperoleh dengan harta yang banyak, pangkat dan jabatan, namun diperoleh dengan sejauh mana interaksi kita dengan al-Qur’an.
Keenam, mendapat pahala yang berlipat ganda. Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf(H.R at-Tirmizi) Membaca “alif lam mim” saja kita mendapatkan pahala sebanyak 30 kebaikan, maka bagaimana dengan membaca sejumah ayat-ayat yang dalam satu halaman al-Qur’an? Bahkan berapa jumlah pahala yang kita peroleh bila kita mampu membaca 1 juz dengan jumlah huruf ribuan atau ratusan ribu? Tentu pahalanya sangat banyak, bahkan kita tidak sanggup menghitungnya.
Oktober 2012 RADIO KRPH - Ngaji Online
- “Mendekatkan Al Qur’an Kepada Buah Hati Sejak Dalam Kandungan” (Ustzh. Nunung Bintari.)
- “Meneladani Kekuatan Akidah Nabi Ibrahim, AS. dalam Melaksanakan Perintah Allah” (Ust. Fadlan Adham Hasyim, Lc.)
- “Menembus Batas Cinta Ilahi, Hadits Arba’in ke-38″ (Ust. Arif Rif’an, M.SI.)
- “Kriteria-kriteria Wanita Penghuni Surga” (Ustzh. Mimi Rahmasari, Lc.)
- “Tafsir QS. Al Hajj 26-37: Manfaat Melaksanakan Ibadah Haji” (Ust. Nashir Harist, Lc.)
- “Fiqh Qurban: Cara Rasulullah Melaksanakan Ibadah Qurban” (Ust. Sholihun)
- “Proses Pemantapan Hati Seorang Wanita dalam Menghadapi Pernikahan” (Ustzh. Umi Munawiroh, S.Sos.)
- “Ihtirom, Bagaimana Menghormati Guru bagi Penuntut Ilmu” (Ust. Sholihun)
- “Akhlak Rasulullah terhadap Anak-anak” (Ust. Didik Purwodarsono)
- “Peran Muslimah Dalam Bernegara Seperti yang Diceritakan Dalam Al Qur’an” (Ust. Talqis Nurdiyanto, Lc.)
- “Jelajah Hati: Hati Yang Selalu Terjaga Kesuciannya” (Ust. Syatori Abdurrouf)
- “Pernikahan Visioner” (Ust. Salim A. Fillah)
- “Jihad Muslimah di Jalan Dakwah” (Ustzh. Asri Widiarti, S.Si.)
MELAWAN LIBERALISME
Artikel ini datang dari kontributor flipper Aryo diambil dari web utama flippermagz.com sebagai rekap artikel
“Harapannya,
sesuai dengan tema bahwa kita perlu menguatkan ukhuwah untuk melawan liberalisasi
agama dari JIL, khususnya liberalisasi Agama Islam. Liberalisasi Islam ini
membahayakan akidah umat Islam”, ujar Zaky Ramadhan, anggota ITJ chapter Yogyakarta.
Pembicara
pada kajian ini adalah Ustadz Jazir ASP, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan
sekaligus penasihat agama Sultan Hamengku Buwana X. Kajian ini dimulai pada
pukul 13.00 WIB dan berakhir menjelang Waktu Ashar. Setelah melaksanakan Shalat
Ashar, kawan-kawan ITJ bergerak menuju titik nol kilometer untuk melakukan aksi
berupa penyebaran Buletin ITJ, pembentangan spanduk ITJ, serta beberapa orasi
dari perwakilan masing-masing chapter.
silahkan klik untuk memperbesar gambar
Dalam
kajian ini, Ustadz Jazir memaparkan sejarah bagaimana pergerakan SEPILIS
(Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) di berbagai daerah di Eropa dan
Indonesia terutama, dan dari berbagai waktu.Beliau menceritakan bagaimana
perjuangan para pejuang Islam pada masa-masa kemerdekaan untuk melawan gerakan
liberalisasi agama, khususnya Islam.Dalam kesempatan ini beliau juga menghimbaukepada
para hadirin, bahwa era sekarang perang paling berbahaya bukanlah perang “okol”
(otot), tetapi otak. Pemikiran akan dilawan dengan pemikiran, sehingga kajian
keilmuan menjadi hal yang penting agar kita menjadi lebih paham dan lebih
tenang untuk berada dalam perang ini.
“ITJ
merupakan gerakan simpatik yang menghargai pluralitas di Indonesia, di mana
keberagaman agama yang ada patut untuk dihargai. Sementara ide pluralisme memaksa
semua agama untuk sama. Hal inilah yang kami tentang, sebab masing-masing agama
mempunyai pendiriannya dan tidak bisa disamakan. Dan perbedaan inilah yang
harus dihargai”, ujar Aspian Noor, Koordinator ITJ Yogyakarta dalam orasinya.
“Gerakan kami adalah gerakan intelektual”, lanjutnya.
Sabil
Zaidane, Koordinator ITJ Semarang dalam kesempatan orasinya juga mengajak warga
Yogyakarta untuk peduli terhadap generasi muda sekarang, agar dapat terjaga
dari pemikiran-pemikiran JIL yang membahayakan akidah Islam ini. Koordinator
ITJ Purwokerto juga menyampaikan dalam kesempatan orasinya, bahwa Islam Liberal
itu bukanlah Islam. Analoginya adalah orang utan tidak sama dengan orang.
Dalam
kesempatan yang lain, Aspian berharap gerakan ITJ, yang terdiri dari berbagai
kalangan dan usia ini, ke depannya akan semakin kokoh dan menjadi lebih kompak
untuk melawan pemikiran-pemikiran dari JIL. Tidak lupa juga bersama-sama untuk
menguatkan akidah masyarakat.
Sabtu, 16 Februari 2013
Rabu, 13 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)








































